Cerpen Kehidupan "Ayah, Dirimu Payah!!!"
AYAH DIRIMU PAYAH
Suatu hari di sebuah perdesaan ada keluarga yang begitu sederhana dengan Bapak Parjo,Ibu Tiswi, anak perempuan dengan nama Painah. Painah yang kini tengah duduk dibangku kelas 11 itu mengeluh akan kehidupannya. Semenjak Ibu Tiswi itu tidak berjualan keliling lagi karena baru saja melahirkan seorang anak laki- laki dinamai Ahmad. Sekarang gantian Bapak Parjo yang bekerja. Keesokan harinya, sebelum pergi ke sekolah biasanya sarapan sudah di siapkan tapi kini dia harus membuat sendiri. Setelah Painah sarapan dia pergi ke sekolah, dan Bapak Parjo sedang bersiap-siap untuk bekerja yakni tukang bangunan. Sesampainya Painah tiba di sekolah, dia bermain dengan teman temannya.
"Heh Nah, kenapa kamu cemberut "?
" Aku BT nih, semenjak aku punya adek uang jajanku berkurang nih".
Tiba-tiba salah satu temannya mengahampiri Painah.
"Kamu jangan bicara begitu, seharusnya kamu bersyukur sudah dikasih uang dan mempunyai orangtua seperti itu".
Painah di kelas tidak mau mendengarkan pelajaran dia sibuk main handpone, ramai dll. Dia tidak memikirkan ayahnya yang susah payah mencarikan nafkah untuk kebutuhannya agar painah ini tidak senasib seperti orangtuanya. Difikiran Painah hanya senang-senang saja dia tidak mengerti bagaimana letihnya ketika mencari uang dibawah terik sinar matahari yang membasahi tubuh bapak Parjo ini. Sepulang sekolah Painah disuruh Ibunya untuk mencuci baju, tapi Painah membantah ibunya.
" Aku capek bu, baru saja sampai udah ibu suruh suruh kenapa gak ibu aja yang nyuci baju sih".
" Ibu harus mengurus adikmu ini nak, kalau aku yang nyuci siapa yang ngurusin adikmu ".
Dihati Painah berkata,
"Semenjak punya adik, aku yang harus mengalah. Hidup ini gak adil Tuhan!!!. Akhirnya Painah mencuci baju, lalu menjemur baju didepan rumah. Tiba-tiba sang Bapak pulang dengan badan yang penuh semen dan juga kotor. Bapak Parjo masuk kedalam rumah, selesai mandi Pak Parjo menyuruh Painah membuatkan kopi, tapi Painah menolak karena sibuk bermain Handpone. Setelah satu jam kemudian, Painah mengahampiri Bapak Parjo yang sedang letih.
" Bapak besok bayar SPP"
"Tunggu bapak bayaran nak"
" Besok terakhir pak"
" Baiklah nak Bapak usahakan".
Dengan teganya painah meninggalkan bapaknya yang sedang kelelahan itu, bukanya dia membantu menghilangkan rasa lelahnya tetapi hilang begitu saja. Beberapa menit kemudian, Bapak Parjo berbincang-bincang tentang anaknya bersama istrinya.
" Kenapa anakmu berubah seperti ini ".
" Jujur Pak, Aku tidak tahu ".
Keesokan harinya painah mencuci baju pagi sekali. " Tumben kamu nyuci jam segini nak"?
"Iya bu, nanti Inah kan sekolah".
Bapak Parjo yang sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja, tiba-tiba di tengah perjalanan Pak Parjo melihat anaknya bermain dengan teman laki- laki maupun perempuanya padahal 08.00 WIB masih jam pelajaran. Mereka seperti anak yang tidak mempunyai aturan. Bapak Parjo mengabaikan itu dan melanjutkan perjalananya untuk bekerja agar dapat membayar SPP anaknya. Sore hari kemudian, Pak Parjo pulang dengan selamat dan sesampai di rumah, Painah belum pulang. Ibu khawatir dengan keadaan Painah dan menyuruh Pak Parjo yang baru saja sampai dirumah untuk mencari anaknya. Ketika sampai pertigaan, Parjo tidak sengaja berselingan dengan painah, tapi pak Parjo tak mengetahuinya. Ketika Painah sampai dirumah Ibu memarahinya.
"Dari mana saja kamu, anak perempuan pulang jam segini. Bapakmu yang baru sampai aku suruh untuk mencarimu, cepat telefon Bapakmu itu". Painah bergegas menelfon Bapaknya.
" Pak, Inah sudah pulang. Bapak dimana"?
"Alhamdulilah nak, Bapak di toko makanan yang kamu sukai, nanti bapak belikan makanan itu untukmu".
Satu jam kemudian, Pak Parjo pulang kerumah membawakan makanan yang disukai anaknya itu. Painah mendiamkan diri karena dia merasa bersalah, tapi dengan sengajanya dia mengulangi kesalahnya itu kembali.
"Pak uang untuk SPP ku mana"?
"Maaf nak, tadi uang itu aku belikan makanan kesukaanmu itu"
"Apa? aku kan mau ujian pak, sebelum ujian aku harus melunasi SPP ku itu, kalau belum lunas aku tidak akan mengikuti ujian itu pak".
Bapak Parjo segera bergegas mencari uang untuk biaya SPP itu, karena Pak Parjo tidak ingin kalau anaknya tidak mengikuti ujian. Keesokan harinya setelah sarapan Pak Parjo memberikan uang SPP kepada anaknya, kemudian Painah pergi ke sekolah dan Pak Parjo pergi berangkat bekerja seperti biasanya. Sesampai di tempat kerja ada teman kerjanya yang menghapiri pak Parjo
" Jo aku tadi melihat anakmu berboncengan dengan laki laki"
" Tidak mungkin anaku seperti itu dia anak yang baik. Lagi pula hari ini pembagian kartu PTS dan besok hari ujianya".
" Untuk apa aku bohong kepadamu Jo, anakmu itu tidak pernah berterimakasih atas jasamu ini jo dia sungguh anak yang durhaka".
" Tak usah kamu berbicara seperti itu ".
10 jam kemudian bapak Parjo pulang kerumah dan bertanya kepada anaknya painah
" Nak, tadi ada yang bilang ke bapak kalo kamu tadi pagi berboncengan dengan laki- laki ya? apa kamu bolos sekolah nak"?
" Tidak mungkin aku melakukan seperti itu pak, terserah bapak kalau bapak mempercayai orang itu daripada anaknya sendiri ".
Keesokan harinya Parjo menghampiri temannya.
"Tarno!!! kamu kalau bicara jangan asal gitu, anaku tidak berboncengan hari itu"
" Kamu sungguh bapak yang baik omongan anak muda sekarang kamu percaya gitu aja".
Teman pak Parjo dengan nama Pujo tidak sengaja mendengar omongan Pak Tarno dengan Puja yang memfitnah anaknya pak Parjo itu.
Puji :" Terimakasih pak ini uangnya, Bapak berhasil membuat Pak Parjo bingung dengan anaknya".
Tarno :" Sama sama mbak, sebenarnya mbak ini ada masalah apa dengan anak Pak Parjo sih mbak"?
Puji : " Aku syirik dengannya, dia cantik, dia banyak yang menyukai, maka dari itu aku ingin dia hidup sengsara".
Pak Tarno bergegas mencari Pak Parjo dengan bercerita tentang apa yang sudah dia dengar percakapan antara Pak Tarno dengan Puja temanya Painah.
_______.tamat______
Suatu hari di sebuah perdesaan ada keluarga yang begitu sederhana dengan Bapak Parjo,Ibu Tiswi, anak perempuan dengan nama Painah. Painah yang kini tengah duduk dibangku kelas 11 itu mengeluh akan kehidupannya. Semenjak Ibu Tiswi itu tidak berjualan keliling lagi karena baru saja melahirkan seorang anak laki- laki dinamai Ahmad. Sekarang gantian Bapak Parjo yang bekerja. Keesokan harinya, sebelum pergi ke sekolah biasanya sarapan sudah di siapkan tapi kini dia harus membuat sendiri. Setelah Painah sarapan dia pergi ke sekolah, dan Bapak Parjo sedang bersiap-siap untuk bekerja yakni tukang bangunan. Sesampainya Painah tiba di sekolah, dia bermain dengan teman temannya.
"Heh Nah, kenapa kamu cemberut "?
" Aku BT nih, semenjak aku punya adek uang jajanku berkurang nih".
Tiba-tiba salah satu temannya mengahampiri Painah.
"Kamu jangan bicara begitu, seharusnya kamu bersyukur sudah dikasih uang dan mempunyai orangtua seperti itu".
Painah di kelas tidak mau mendengarkan pelajaran dia sibuk main handpone, ramai dll. Dia tidak memikirkan ayahnya yang susah payah mencarikan nafkah untuk kebutuhannya agar painah ini tidak senasib seperti orangtuanya. Difikiran Painah hanya senang-senang saja dia tidak mengerti bagaimana letihnya ketika mencari uang dibawah terik sinar matahari yang membasahi tubuh bapak Parjo ini. Sepulang sekolah Painah disuruh Ibunya untuk mencuci baju, tapi Painah membantah ibunya.
" Aku capek bu, baru saja sampai udah ibu suruh suruh kenapa gak ibu aja yang nyuci baju sih".
" Ibu harus mengurus adikmu ini nak, kalau aku yang nyuci siapa yang ngurusin adikmu ".
Dihati Painah berkata,
"Semenjak punya adik, aku yang harus mengalah. Hidup ini gak adil Tuhan!!!. Akhirnya Painah mencuci baju, lalu menjemur baju didepan rumah. Tiba-tiba sang Bapak pulang dengan badan yang penuh semen dan juga kotor. Bapak Parjo masuk kedalam rumah, selesai mandi Pak Parjo menyuruh Painah membuatkan kopi, tapi Painah menolak karena sibuk bermain Handpone. Setelah satu jam kemudian, Painah mengahampiri Bapak Parjo yang sedang letih.
" Bapak besok bayar SPP"
"Tunggu bapak bayaran nak"
" Besok terakhir pak"
" Baiklah nak Bapak usahakan".
Dengan teganya painah meninggalkan bapaknya yang sedang kelelahan itu, bukanya dia membantu menghilangkan rasa lelahnya tetapi hilang begitu saja. Beberapa menit kemudian, Bapak Parjo berbincang-bincang tentang anaknya bersama istrinya.
" Kenapa anakmu berubah seperti ini ".
" Jujur Pak, Aku tidak tahu ".
Keesokan harinya painah mencuci baju pagi sekali. " Tumben kamu nyuci jam segini nak"?
"Iya bu, nanti Inah kan sekolah".
Bapak Parjo yang sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja, tiba-tiba di tengah perjalanan Pak Parjo melihat anaknya bermain dengan teman laki- laki maupun perempuanya padahal 08.00 WIB masih jam pelajaran. Mereka seperti anak yang tidak mempunyai aturan. Bapak Parjo mengabaikan itu dan melanjutkan perjalananya untuk bekerja agar dapat membayar SPP anaknya. Sore hari kemudian, Pak Parjo pulang dengan selamat dan sesampai di rumah, Painah belum pulang. Ibu khawatir dengan keadaan Painah dan menyuruh Pak Parjo yang baru saja sampai dirumah untuk mencari anaknya. Ketika sampai pertigaan, Parjo tidak sengaja berselingan dengan painah, tapi pak Parjo tak mengetahuinya. Ketika Painah sampai dirumah Ibu memarahinya.
"Dari mana saja kamu, anak perempuan pulang jam segini. Bapakmu yang baru sampai aku suruh untuk mencarimu, cepat telefon Bapakmu itu". Painah bergegas menelfon Bapaknya.
" Pak, Inah sudah pulang. Bapak dimana"?
"Alhamdulilah nak, Bapak di toko makanan yang kamu sukai, nanti bapak belikan makanan itu untukmu".
Satu jam kemudian, Pak Parjo pulang kerumah membawakan makanan yang disukai anaknya itu. Painah mendiamkan diri karena dia merasa bersalah, tapi dengan sengajanya dia mengulangi kesalahnya itu kembali.
"Pak uang untuk SPP ku mana"?
"Maaf nak, tadi uang itu aku belikan makanan kesukaanmu itu"
"Apa? aku kan mau ujian pak, sebelum ujian aku harus melunasi SPP ku itu, kalau belum lunas aku tidak akan mengikuti ujian itu pak".
Bapak Parjo segera bergegas mencari uang untuk biaya SPP itu, karena Pak Parjo tidak ingin kalau anaknya tidak mengikuti ujian. Keesokan harinya setelah sarapan Pak Parjo memberikan uang SPP kepada anaknya, kemudian Painah pergi ke sekolah dan Pak Parjo pergi berangkat bekerja seperti biasanya. Sesampai di tempat kerja ada teman kerjanya yang menghapiri pak Parjo
" Jo aku tadi melihat anakmu berboncengan dengan laki laki"
" Tidak mungkin anaku seperti itu dia anak yang baik. Lagi pula hari ini pembagian kartu PTS dan besok hari ujianya".
" Untuk apa aku bohong kepadamu Jo, anakmu itu tidak pernah berterimakasih atas jasamu ini jo dia sungguh anak yang durhaka".
" Tak usah kamu berbicara seperti itu ".
10 jam kemudian bapak Parjo pulang kerumah dan bertanya kepada anaknya painah
" Nak, tadi ada yang bilang ke bapak kalo kamu tadi pagi berboncengan dengan laki- laki ya? apa kamu bolos sekolah nak"?
" Tidak mungkin aku melakukan seperti itu pak, terserah bapak kalau bapak mempercayai orang itu daripada anaknya sendiri ".
Keesokan harinya Parjo menghampiri temannya.
"Tarno!!! kamu kalau bicara jangan asal gitu, anaku tidak berboncengan hari itu"
" Kamu sungguh bapak yang baik omongan anak muda sekarang kamu percaya gitu aja".
Teman pak Parjo dengan nama Pujo tidak sengaja mendengar omongan Pak Tarno dengan Puja yang memfitnah anaknya pak Parjo itu.
Puji :" Terimakasih pak ini uangnya, Bapak berhasil membuat Pak Parjo bingung dengan anaknya".
Tarno :" Sama sama mbak, sebenarnya mbak ini ada masalah apa dengan anak Pak Parjo sih mbak"?
Puji : " Aku syirik dengannya, dia cantik, dia banyak yang menyukai, maka dari itu aku ingin dia hidup sengsara".
Pak Tarno bergegas mencari Pak Parjo dengan bercerita tentang apa yang sudah dia dengar percakapan antara Pak Tarno dengan Puja temanya Painah.
_______.tamat______

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteHallo! Aku sudah baca cerpenmu. Jika berkenan baca juga cerpenku di http://gambangsemarang.com/gamelan-pemimpi/
ReplyDeleteOk kak
Delete